Matahari bangun dari
peraduannya
Tanda dimulainya
hari yang indah
Sorak-sontai
hambaNya bergembira
Seakan-akan tak
pernah ada keluh kesah
Cerahnya sang surya
Tak secerah semangat
para pejuang sang pencari nafkah
Butiran ombak di pagi buta
Menjadi teman mereka
Menjadi tempat bersemayam
Jiwa-jiwa yang tak pernah berputus asa
Hari itu
Hari yang indah
Semua yang ada
Menyambutnya dengan
tawa
Hari itu
Tak ada duka
Semangat yang
membahana
Mekar indah dalam
raut muka
Sang nelayan pergi mengarungi lautan
Berbekal jala tuk mencari ikan
Sang petani pergi membajaki ladang
Berbekal cangkul tuk menyulap tanah
gersang
Sang ibu tak kalah pula berlarian
Menanak nasi membawa tampan
Menyiapkan suapan untuk keluarga
tersayang
Dengan gumpalan
semangat
Mereka menjalani
kehidupan
Tak peduli seperti
apa tantangan yang mereka hadapi
Tak peduli sekeras
apa batu yang menghadang
Semangat dan do’a
kan tetap mengiringi
Alam menyambut mereka dengan riang
Tak ada kegelisahan
Apalagi keputusasaan
Di pematang seorang
anak kecil berdiri
Nampaknya dia sedang
mengalami kepedihan
Mata lentik menjadi
penuh dengan airmata
Wajah cantik menjadi
sembam
Duduk di bawah pohon
kelapa
Beralaskan tikar
yang terbuat dari daun rotan
sedu sedan karena
kalah bermain bersama kawan
lucunya mereka kala itu
berlarian mereka tertawa riang
wajah penuh tawa
rona gembira mekar begitu saja
pahit manis kehidupan belum pernah
mereka temukan
mereka habiskan waktu dengan permainan
mulai pulang sekolah hingga petang
setiap hari hal
seperti itu terjadi
kan selalu kita
temui
indahnya kehidupan
meski tinggal di
desa pedalaman
kehidupan yang sama
sekali tidak akan kita temui di perkotaan
hingga pagi itu
sesuatu yang tak terpikirkan telah
datang
ombak besar menerjang
merusak dan menghancurhan seisi kampung
air bah menyeret tubuh-tubuh tak
berdosa dengan
paksa
paksa
pohon kelapa jatuh bak tangkai kecil
yang berhamburan
di kala hujan
di kala hujan
alam meluapkan
amarah
gemuruh ombak
semakin membahana
dalam sekejap
menghancurkan
semuanya
banyak tubuh terhanyut
tak berdaya mengikuti gelombang yang
menelan ribuan
jiwa
jiwa
senyuman dan tawa yang biasanya
membahana
kini disulap menjadi petaka
kebahagiaan itu kini tlah lenyap
terbawa ombak dan kembali ke asalnya
bangunan kokoh tak
ada lagi
pohon yang rindang
tak nampak lagi
alam
meluluhlantakkan semuanya
menghapus bersih
tanpa tersisa
tangisan dan airmata ada dimana-mana
tak mampu melawan takdir yang
menerjang
tak mampu menolak kehendak Tuhan Yang
Maha Tau
karena
kita hanyalah hambaNya yang tak mampu
kejutan airmata itu hadir tiba-tiba
hingga kini kan masih membekaskan luka
Kerlingan sepi
menjerat kalbu
Kegundahan hati
menjadi semakin tak menentu
Terdengar sepetik
bait lagu
Dari bilik kecil tak
berterumbu
Sayup-sayup lirik
yang membuat hati semakin pilu
Kegundahan semakin menjadi
Keberanian hilang dan telah mati
Awan semakin
menggelap
Selaksa peristiwa
yang mencekeram negara ini
beberapa tahun yang
lalu
tetaplah mengukir
kenangan yang takkan terlupakan
dengan sebutir semangat dan keikhlasan
mereka kembali membangun pondasi
kehidupan
mereka kembali bangkit
meski masih terasa pahit
namun harus mereka tepis
hari demi hari
mereka lali
dari waktu ke waktu
mereka jalani
dengan semangat tuk
kembali menggapai mimpi
mimpi yang telah
sirna akan kehadiran Tsunami
kini tawa itu kembali terukir
kini semangat itu kembali hadir
kerlingan sepi tak ada lagi
hamparan mimpi siap mereka raih
tak ada yang perli
disesalkan
tak ada yang perlu
dikecewakan
semuanya adalah
pelajaran
selagi itu juga
merupakan teguran

.jpg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar